Orangtua Harus Tahu, Ini yang Bisa Dilakukan jika Anak Jadi Korban Bullying

HEALTHY LIFE

Ilustrasi (Foto: Shutterstock )
28 Mei 2019
Orangtua Harus Tahu, Ini yang Bisa Dilakukan jika Anak Jadi Korban Bullying

IMAJI.LIVE - Libur sekolah telah usai dan Buah Hati Anda kembali masuk sekolah.

 

Kembali bersekolah, bisa menakutkan bagi beberapa anak.

 

Anda harus waspada, sebab ketakutan berlebihan boleh jadi tanda ia pernah menjadi korban bullying di sekolah.

 

Bullying, perisakan, atau perundungan di sekolah dapat terjadi dalam bentuk ejekan, meminta barang atau uang dengan paksa, ancaman, bahkan tindakan fisik.

 

Tentunya, ini merupakan kondisi yang harus Anda perhatikan.

https://www.imaji.live/read/cerdas-memilih-tas-untuk-si-kecil-ancaman-saraf-hingga-gangguan-peredaran-darah-mengintai

https://www.imaji.live/read/tahun-ajaran-baru-faber-castell-gelar-program-backtoschool

 

Apabila tidak ditangani dengan serius, perisakan dapat membuat Si Kecil mengalami kondisi depresi, gangguan kecemasan, bahkan berpotensi bunuh diri.

 

Selain anak menjadi malas dan takut berangkat sekolah, tanda-tanda bullying, juga dapat berupa separation anxiety, sering mengalami mimpi buruk, kemunduran tumbuh kembang pada anak (seperti mengompol), serta nafsu makan yang menurun.

 

Tanda-tanda tersebut dapat menunjukkan bahwa anak menjadi korban bullying.

 

Ada beberapa langkah yang bisa Anda terapkan, untuk membantu anak yang menunjukkan tanda-tanda mengalami perisakan di sekolah.

https://www.imaji.live/read/sensasi-mandi-bersama-ikan-pencinta-alam-wajib-mencoba

https://www.imaji.live/read/destinasi-wisata-tersohor-seputar-medan-deli-serdang-cocok-ajak-keluarga-besar

 

1. Dorong anak menceritakan detail perisakan yang dialami

Ekspresikan bahwa Anda peduli dengan kondisi yang dialami anak, serta tunjukkan empati sebagai orang tua.

 

Beberapa anak mungkin takut atau malu, apabila jujur untuk menyampaikan kondisinya.

 

2. Sampaikan bahwa menjadi korban bullying bukan kesalahan anak

Anda harus dapat menenangkan anak, bahwa ia tidak sendirian atas perisakan yang ia alami.

https://www.imaji.live/read/trailer-perdana-mulan-tembus-7-juta-dalam-sehari-rilis

https://www.imaji.live/read/bunda-ini-rekomendasi-permainan-terbaik-untuk-anak-di-smartphone

 

Pujilah kejujuran dan keberanian anak, karena telah menceritakan pengalamannya pada Anda.

 

3. Ajari Buah Hati untuk tidak membalas

Merespons bullying bukanlah mengajari anak balik menyerang pelaku perundungan, baik secara fisik maupun verbal.

 

Sarankan Si Kecil untuk segera meninggalkan lokasi perundungan saat kejadian, atau mengadukan gangguan tersebut ke guru yang ia percaya.

 

Sarankan pula untuk tidak bepergian sendirian saat berada di lingkungan sekolah.

https://www.imaji.live/read/awas-anak-terlalu-aktif-salah-satu-indikasi-gangguan-mental

https://imaji.live/read/keseringan-mimpi-buruk-tanda-ada-masalah-kesehatan

 

4. Bicarakan dengan wali kelas anak dan pihak sekolah

Anda mungkin turun tangan, dengan menemui wali kelas, guru anak yang sekiranya bisa membantu, bahkan kepala sekolah.

 

Minta bantuan mereka, untuk senantiasa menjaga Buah Hati di sekolah.

 

Pertemuan dengan pihak sekolah, mungkin dapat dilakukan rutin untuk memastikan pengawasan tersebut efektif atau tidak.

 

5. Berkomunikasi dengan pelaku perundungan

Perlu digarisbawahi, anak yang menjadi pelaku bullying juga membutuhkan bantuan orang dewasa, karena faktor lain yang mungkin ia alami.

https://imaji.live/read/awas-5-jenis-pekerjaan-ini-rentan-bikin-pekerja-wanita-bunuh-diri

https://imaji.live/read/bocah-7-tahun-ini-alami-kecanduan-aneh

 

Anda bisa mendekati anak pelaku perisakan, dan yakinkan bahwa tindakan yang ia lakukan dapat melukai orang lain.

 

Menjadi korban bullying mungkin dapat memicu gejala gangguan mental pada anak.

 

Jika keadaan mental anak sudah sangat parah, Anda sangat disarankan untuk mencari bantuan psikolog ataupun psikiatri.

 

Terapi mental, seperti terapi kognitif perilaku mungkin akan ditawarkan dokter, untuk membantu anak yang menjadi korban bullying.

 

Terapi ini dapat membimbing anak, untuk mengendalikan perasaan dan pikirannya, serta mengembalikan kepercayaan Si Kecil.

 

Bullying mungkin menjadi hal yang sudah sering Anda dengar, sehingga terdengar biasa saja.

 

Namun, bukan berarti hal tersebut normal, karena ada dampak negatif pada anak seiring tumbuh kembangnya. Selain itu, pastikan Anda tidak pernah menyalahkan anak yang menjadi korban bullying.(*)

 

Artikel ini telah tayang di situs sehatq dengan judul Anak Menjadi Korban Bullying di Sekolah, Apa yang Harus Dilakukan untuk Mengatasinya?

 


  • TAGS
  • edukasi-anak
  • indonesia
  • tips-sukses